Jumat, 24 Oktober 2014

Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Otitis Media



ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN OTITIS MEDIA

Disusun dalam rangka memenuhi tugas kelompok
Mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah
Dosen Pembimbing Saelan, S. Kep. Ns
logo akper.jpg

Oleh :
1.      Nisa Aprilia Saputri          (13043)
2.      Nurifatul Farida                (13045)
3.      Pandu Sukmo N.               (13047)




AKADEMI KEPERAWATAN KABUPATEN PURWOREJO
Tahun Ajaran 2013/2014


KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Otitis Media ini sebatas pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Dan juga kami berterima kasih pada bapak Saelan, S. Kep. Ners. selaku Dosen mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai definisi, etiologi dan segala hal yang berkaitan dengan Otitis Media. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.


Purworejo, 22 Oktober 2014


Penyusun





OTITIS MEDIA

Definisi
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran dan keseimbangan). Anatominya juga sangat rumit . Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar.(Roger watson, 2002, 102)
Otitis media adalah peradangan akut atau seluruh pericilium telinga tengah. Saat bakteri melalui saluran eustachius, bakteri bisa menyebabkan infeksi saluran tersebut. Sehingga terjadilah pembengkakan di sekitar saluran, mengakibatkan tersumbatnya saluran. (Mansjoer, 2001, 76).
Otitis Media Akut adalah suatu infeksi pada telinga tengah yang disebabkan karena masuknya bakteri patogenik ke dalam telinga tengah (Smeltzer, 2001).
            Otitis Media Akut adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah (Mansjoer, Arif, 2001).
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid (Ahmad Mufti, 2005)

Anatomi Fisiologi
Secara anatomi telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar, tengah dan dalam. Dalam perkembangannya telinga dalam merupakan organ yang pertama kali terbentuk mencapai konfingurasi dan ukuran dewasa pada trimester pertengahan kehamilan. Sedangkan telinga tengah dan luar belum terbentuk sempurna saat kelahiran, akan tumbuh terus dan berubah bentuk sampai pubertas.  
a)      Telinga dalam
Labirin mulai berdiferensiasi pada akhir minggu ketiga dengan munculnya plakoda otik (auditori). Dalam waktu kurang dari satu minggu plakoda tersebut mengalami invaginasi membentuk lekuk pendengaran, kemudian berdilatasi membentuk suaru kantong, selanjutnya tumbuh menjadi vesikula auditorius.
Suatu proses migrasi, pertumbuhan dan elongasi vesikula kemudian berlangsung dan segera membuat lipatan pada dinding kantong yang secara jelas memberi batas tiga divisi utama vesikula auditorius yaitu sakus dan duktus endolimfarikus, utrikulus dengan duktus semi sirkuler dan sakulus dengan duktus koklea. Dari utrikulus kemudian timbul tiga tonjolan mirip gelang. Lapisan membran yang jauh dari perifer gelang diserap meninggalkan tiga kanalis semisirkularis pada perifer gelang. Sakulus kemudian membentuk duktus koklearis berbenruk spiral.Secara filogenetik organ-organ akhir khusus berasal dari neuromast yang tidak terlapisi yang berkembang dalam kanalis semisirkularis untuk membentuk krista. Di dalam utrikulus dan sakulus membentuk makula dan dalam koklea membentuk organon koiti. Diferensiasi ini berlangsung dari minggu keenam sampai ke 10 fetus, pada saat itu hubungan definitive seperfi telinga orang dewasa telah siap.
b)      Telinga Luar dan Tengah
Ruang telinga tengah, mastoid, permukaan dalam membijana timpani dan tuba. Eustachius berasal dari kantong faring pertama. Perkembangan prgan ini dimulai pada minggu keempat dan berlanjut sampai minggu ke 30 fetus, kecuali pneumatisasi mastoid yang terus berkembang sampai pubertas.
Osikel berasal dari mesoderm celah brankial pertama dan kedua, kecuali basis stapes yang berasal dari kapsul otik. Osikel berkembang mulai minggu kedelapan sampai mencapai bentuk- komplet pada minggu ke 26 fetus.
Liang telinga luar berasal dari ektoderm celah brankial pertama.Membrana timpani mewakili membran penutup celah tersebut. Pada awalnya liang telinga luar tertutup sama sekali oleh suatu sumbatan jaringan padat, akan tetapi akan mengalami rekanalisasi.

Komplikasi
1.             Peradangan telinga tengah (otitis media) yang tidak diberi terapi secarabenar dan adekuat dapat menyebar ke jaringan sekitar telinga tengahtermasuk ke otak, namun ini jarang terjadi setelah adanya pemberianantibiotik.
2.             Mastoiditis
3.             Kehilangan pendengaran permanen bila OMA tetap tidak ditangani
4.             Keseimbangan tubuh terganggu
5.             Peradangan otak kejang
Etiologi
1.      Disfungsi atau sumbatan tuba eustachius merupakan penyebab utama dari otitis media yang menyebabkan pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba eustachius terganggu, sehingga pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah juga akan terganggu
2.      ISPA (infeksi saluran pernafasan atas), inflamasi jaringan di sekitarnya (misal : sinusitis, hipertrofi adenoid), atau reaksi alergi (misalkan rhinitis alergika). Pada anak-anak, makin sering terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya otitis media akut (OMA). Pada bayi, OMA dipermudah karena tuba eustachiusnya pendek, lebar, dan letaknya agak horisontal.
3.      Bakteri
Bakteri yang umum ditemukan sebagai mikroorganisme penyebab adalah Streptococcus peumoniae, Haemophylus influenza, Moraxella catarrhalis, dan bakteri piogenik lain, seperti Streptococcus hemolyticus, Staphylococcus aureus, E. coli, Pneumococcus vulgaris.

Tanda Gejala
1.      Otitis Media Akut
Gejala otitis media dapat bervariasi menurut beratnya infeksi dan bisa sangat ringan dan sementara atau sangat berat. Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa.
Membrane tymphani merah, sering menggelembung tanpa tonjolan tulang yang dapat dilihat, tidak bergerak pada otoskopi pneumatic ( pemberian tekanan positif atau negative pada telinga tengah dengan insulator balon yang dikaitkan ke otoskop ), dapat mengalami perforasi.
a.       Otorrhea, bila terjadi rupture membrane tymphani
b.      Keluhan nyeri telinga ( otalgia )
c.       Demam
d.      Anoreksia
e.       Limfadenopati servikal anterior
Stadium Otitis Media Akut
Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium yaitu:
1)      Stadium oklusi tuba eustakhius
Adanya gambaran retraksi akibat terjadinya tekanan negative di dalam tekanan tengah, karena adanya absorbs udara. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan Otitis Media Serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi.
2)      Stadium hiperemesis (stadium presupurasi)
Stadium ini tampak pembuluh daerah yang melebar di membrane timpani atau seluruh membrane timpani tampak hiperemesis serta edema. Secret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.
3)      Stadium supurasi
Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superficial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan membrane timpani menonjol kea rah liang telinga luar. Pada keadaan ini pasien tampak sakit, suhu meningkat, rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan nanah di cavum timpani tidak berkurang, maka terjadi ischemia akibat tekanan pada kapiler dan timbulnya trombophlebitis pada vena kecil dan nekrosis mukosa, dan submukosa. Nekrosis terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan dan di tempat ini akan terjadi ruptur.
4)      Stadium perforasi
Akibat terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar, pada keadaan ini anak yang tadinya gelisah menjadi tenang, suhu badan turun dan anak tidur nyenyak. Keadaan ini disebut Otitis Media Akut Stadium Perforasi.
5)      Stadium resolusi
Bila membran timpani utuh maka perlahan-lahan akan normal kembali, bila sudah perforasi maka secret akan berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahanm tubuh baik atau virulensi kuman reda, maka resolusi dapat terjadi, walaupun tanpa pengobatan.

2.      Otitis Media Serosa
Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran, rasa penuh atau gatal dalam telinga atau perasaan bendungan, atau bahkan suara letup atau berderik, yang terjadi ketika tuba eustachii berusaha membuka. Membrane tymphani tampak kusam (warna kuning redup sampai abu-abu pada otoskopi pneumatik, dan dapat terlihat gelembung udara dalam telinga tengah. Audiogram biasanya menunjukkan adanya kehilangan pendengaran konduktif.

3.      Otitis Media Kronik
Gejala dapat minimal, dengan berbagai derajat kehilangan pendengaran dan terdapat otorrhea intermitten atau persisten yang berbau busuk. Biasanya tidak ada nyeri kecuali pada kasus mastoiditis akut, dimana daerah post aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah dan edema. Kolesteatoma, sendiri biasanya tidak menyebabkan nyeri. Evaluasi otoskopik membrane timpani memperlihatkan adanya perforasi, dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai masa putih di belakang membrane timpani atau keluar ke kanalis eksterna melalui lubang perforasi. Kolesteatoma dapat juga tidak terlihat pada pemeriksaan oleh ahli otoskopi. Hasil audiometric pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan pendengaran konduktif atau campuran.
Komplikasi yang terjadi :
1)        Sukar menyembuh
2)        Cepat kambuh kembali setelah nyeri telingaa berkurang
3)        Ketulian sementara atau menetap
4)        Penyebaran infeksi ke struktur sekitarnya yang menyebabkan mastoiditis akut, kelumpuhan saraf facialis, komplikasi intracranial(meningitis, abses otak), thrombosis sinus lateralis.

Patofisiologi
Pada gangguan ini biasanya terjadi disfungsi tuba eustachii seperti obstruksi yang diakibatkan oleh infeksi saluran nafas atas, sehingga timbul tekanan negative di telinga tengah. Sebaliknya, terdapat gangguan drainase cairan telinga tengah dan kemungkinan refluks sekresi esophagus ke daerah ini yang secara normal bersifat steril. Cara masuk bakteri pada kebanyakan pasien kemungkinan melalui tuba eustachii akibat kontaminasi secret dalam nasofaring. Bakteri juga dapat masuk telinga tengah bila ada perforasi membran tymphani. Eksudat purulen biasanya ada dalam telinga tengah dan mengakibatkan kehilangan pendengaran konduktif.

Pengkajian Fokus
Pengumpulan pengkajian data melalui riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik seperti di bawah ini :
1)          Riwayat kesehatan : adakah baru-baru ini infeksi pernafasan atas ataukah sebelumnya klien mengalami ISPA, ada nyeri daerah telinga, perasaan penuh atau tertekan di dalam telinga, perubahan pendengaran.
2)          Pemeriksaan fisik : tes pendengaran, memeriksa membran timpani.
3)          Data yg muncul pada saat pengkajian
4)          Sakit telinga/nyeri
5)          Penurunan/tak ada ketajaman pendengaran pada satu atau kedua telinga
6)          Tinitus
7)          Perasaan penuh pada telinga
8)          Suara bergema dari suara sendiri
9)          Bunyi “letupan” sewaktu menguap atau menelan
10)      Vertigo, pusing, gatal pada telinga
11)      Penggunaan minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan telinga
12)      Penggunanaan obat (streptomisin, salisilat, kuirin, gentamisin)
13)      Tanda-tanda vital (suhu bisa sampai 40°C), demam
14)      Kemampuan membaca bibir atau memakai bahasa isyarat
15)      Reflek kejut
16)      Toleransi terhadap bunyi-bunyian keras
17)      Tipe warna 2 jumlah cairan
18)      Cairan telinga; hitam, kemerahan, jernih, kuning
19)      Alergi
20)      Dengan otoskop tuba eustacius bengkak, merah, suram
21)      Adanya riwayat infeksi saluran pernafasan atas, infeksi telinga sebelumnya, alergi

Pemeriksaan Diagnostik
1.             Otoscope untuk melakukan auskultasi pada bagian telinga luar
2.             Timpanogram untuk mengukur keseuaian dan kekakuan membran timpani
3.             Kultur dan uji sensitifitas ; dilakukan bila dilakukan timpanosentesis (Aspirasi jarum dari telinga tengah melalui membrane timpani).
Pemeriksaan Fisik
             1.     Otoskopi
Perhatikan adanya lesi pada telinga luar
Amati adanya oedema pada membran tympani Periksa adanya pus dan ruptur pada membran tympani
Amati perubahan warna yang mungkin terjadi pada membran tympani
2.      Tes bisik
Dengan menempatkan klien pada ruang yang sunyi, kemudian dilakukan tes bisik, pada klien dengan OMA dapat terjadi penurunan pendengaran pada sisi telinga yang sakit
3.      Tes garpu tala
a.       Tes Rinne : pada uji rinne didapatkan hasil negatif
b.      Tes Weber : pada tes weber didapatkan lateralisasi ke arah telinga yang sakit
Terapi tergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi-infeksi saluran nafas atas, dengan pemberian antibiotik dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik.
1.      Stadium Oklusi, Tujuan : membuka kembali tuba eustachius, sehingga tekanan berkurang di telinga tengah hilang. Diberikan obat tetes hidung, HCl efedrin 0,5% dalamlarutan fisiologik (anak <12 tahun) atau HCl efedrin 1% (di atas 12 tahun danpada orang dewasa).
2.      Stadium Presupurasi : Obat tetes hidung dan analgetika, antibiotika (biasanya dari golongan penisilin/ampisilin).
3.      Stadium Supurasi : Disamping antibiotika, idealnya harus disertai dengan miringotomi bila membran tympani masih utuh.
4.      Stadium Resolusi : Membran tympani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi dan perforasi membran tympani menutup.
Diagnosa Keperawatan
1.   Nyeri akut berhubungan dengan agen penyebab cidera fisik
2.   Gangguan persepsi sensori (pendengaran) b.d perubahan resepsi, transmisi dan integritas sensori
3.   Ansietas b.d ancaman terhadap konsep diri

Intervensi Keperawatan
1.      Nyeri akut b.d agen penyebab cidera fisik
Kriteria Hasil NOC :
Menunjukkan Tingkat Nyeri yang dibuktikan oleh indicator sebagai berikut (sebutkan 1-5 : sangat berat, berat, sedang, ringan atau tidak ada) :
a.       Ekspresi nyeri pada wajah
b.      Gelisah/ ketegangan otot
c.       Durasi episode nyeri
d.      Merintih dan menangis
e.       Gelisah
Intervensi NIC :
O : Lakukan pengkajian yang komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, intensitas, kualitas atau keparahan nyeri dan factor presipitasinya.
N : Gunakan pendekatan yang positif untuk mengoptimalkan respon pasien terhadap analgesik.
E : Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang dapat meningkatkan nyeri dan tawarkan strategi koping yang disarankan.
C : Laporkan kepada dokter jika tindakan tidak berhasil

2.      Gangguan persepsi sensori (pendengaran) b.d perubahan resepsi, transmisi dan integritas sensori
Hasil NOC :
a.       Orientasi kognitif : Kemampuan untuk mengidentifikasi orang, tempat dan waktu secara akurat
b.      Komunikasi : Reseptif : Resepsi dan interpretasi pesan verbal dan non verbal
c.       Perilaku kompensasi pendengaran : Tindakan pribadi untuk mengidentifikasi, memantau, dan mengompensasi kehilangan pendengaran
Intervensi NIC :
Pemantauan Neurologis : Mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk mencegah atau meminimalkan komplikasi neurologis
Stimulus Kognitif : Meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap sekitar melalui penggunaan stimulus terencana
Peningkatan Komunikasi : Defisit pendengaran : Membantu pembelajaran dan penerimaan metode alternative untuk menjalani hidup dengan penurunan fungsi pendengaran
Orientasi Realitas : Promosi kesadaran pasien terhadap identitas pribadi, waktu dan lingkungan

3.      Ansietas b.d ancaman terhadap konsep diri
Kriteria Hasil NOC :
a.       Menunjukkan Pengendalian Diri Terhadap Ansietas yang dibuktikan oleh indicator sebagai berikut (sebutkan 1-5 : tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering atau selalu) :
Merencanakan strategi koping untuk situasi penuh tekanan
Mempertahankan performa peran
Memantau distorsi persepsi sensori
Memantau manifestasi perilaku ansietas
Menggunakan teknik relaksasi untuk meredakan ansietas
Intervensi NIC :
O : Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien
N : Bantu pasien untuk memfokuskan pasien pada situasi saat ini, sebagai cara untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi ansietas
E : Berikan informasi mengenai sumber komunitas yang tersedia, seperti teman, tetangga, kelompok, tempat ibadah, lembaga kesukarelawanan dan pusat rekreasi
C : Berikan obat untuk menurunkan ansietas, jika perlu














DAFTAR PUSTAKA

Ari, Elizabeth. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem
Pendengaran dan Wicara. Editor: Dr. Ratna Anggraeni., Sp THT-KL., M.Kes.
Bandung : STIKes Santo Borromeus.

Brunner & Suddarth. 1997. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Brunner & Suddarth . 2000. Keperawatan Medikal Bedah, Buku II Edisi 9, Alih Bahasa :
Agung Waluyo dkk. Jakarta : EGC.

Mansjoer, Arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta : Media Aesculapius
          Fakultas Kedokteran Indonesia.
Wilkinson, Judith M and Nancy R. Ahern. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 9.
          Jakarta, EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar